SEBELUM BELAJAR OTODIDAK MENGENAI BAGAIMANA BELAJAR MENULIS PUISI SILAHKAN KINJUNGI camuserbees.blogspot.com
PENGERTIN PUISI
PENGERTIN PUISI
Kata puisi berasal dari bahasa
Yunani yakni kaya “poites” yang berarti pembuat, pembangunan dan pembentuk.
Sedangkan pada bahasa latin yakni kata “poeta”yang berarti menyair atau
membangun.
Pengertian
puisi didefinisikan hasil seni sastra yang penyusunan kata-katanya sesuai syarat
tertentu dengan menggunakan sajak, irama atau pun makna kiasan. Selain itu
pengertian puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang menggunakan
kata-kata, irama dan rima sebagai media penyampaian untuk mengekpresikan perasaan
dan pikiran penyair menciptakan ilusi dan imajinasi serta dapat diubah dalam
bentuk bahasa yang memiliki kesan yang mendalam. Dalam puisi, keindahan ilusi
dan penataan unsur bunyi merupakan gambaran gagasan oleh penyair.
PEMBAGIAN PUISI
1. Puisi
Lama.
Puisi yang mesih terkait aturan seperti sajak,
kecap,bait, dll.
Macam-macam
Puisi Lama
A. Mantra
Mantra adalah merupakan puisi tua,
keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra,
melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.
Contoh :
assalammua’alaikumputri satulung besar
Yang beralun
berilir simayang
Mari kecik,
kemari
Aku
menyanggul rambutmu
Aku membawa
sadap ganding
Akan
membasuh mukamu
B. Gurindam
Gurindam puisi lama dari Tamil (India)
Ciri-ciri gurindam :
A. Sajak
terakhir sama a-a, b-b, c-c dst.
B. Dari
Tamil.
C. Isinya
merupakan nasihat yang cukup jelas yakni menjelaskan atau menampilakan sesuatu
sebab akibat.
Contoh : Kurang
pikir kurang siasat
Tentu
dirimu akan tersesat
C. Syair
Syair puisi lama dari Arab
Ciri-ciri syair :
A. Setiap
bait terdiri dari 4 baris
B. Setiap
baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
C. Bersajak
a – a – a – a – a
D. Isi
semua tidak ada sampiran
E. Berasal
dari Arab
Contoh : Pada zaman dahulu
kala
Tersebutlah
sebuah cerita
Sebuah
negri yang aman dan sentosa
Dipimpin
sang raja nan bijaksana
D. Pantun
Pantun adalah puisi melayu asli yang
cukup mengakar dan membudaya dalam masyarakat.
Ciri-ciri pantun :
A. Setiap bait terdiei dari 4 baris
B. Baris
1 dan 2 sebagai sampiran
C. Baris
3 dan 4 merupakan isi
D. Bersajak
A – B – A – B
E. Setiap
baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
F. Berasal
dari Melayu (Indonesia)
Contoh : Ada papaya ada mentimun
Ada mangga
ada salak
Daripada
duduk melamun
Mari
kita membaca sajak
Dilihat
dari bentuk
A. Pantun
Biasa.
B. Seloka
Pantun berkait yang tidak cuku dengan
satu bait saja sebab pantun berkait merupakan jalinan atas beberapa bait.
Ciri-ciri Seloka :
A. Baris
kedua dan keempat pada bait pertama dipakai sebagai baris pertama dan ketiga
bait kedua.
B. Baris
kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait
ketiga.
C. Dan
seterusnya
Contoh : Lurus jalan ke
Payakumbuh,
Kayu
jati bertimbal jalan
Dimana
hati tak akan rusuh
Ibu
mati bapak berjalan
Kayu jati bertimbal tangan
Kayu jati bertimbal tangan
Turun
angin patahlah dahan
Ibu
mati bapak berjalan
Kemana
untung diserahkan.
C. Talibun.
Pantun jumlah barisnya lebih dari 4
baris, tetapi jumlahnya harus genap 6.8.10 dan seterusnya. Jika satu bait
berisi 6 baris (3 sampiran 3 isi). Jika satu bait berisi 8 baris (4 sampiran 4
isi).
Contoh : Kalau
anak pergi ke pecan
Yu beli beranak
pun beli sampiran
Ikan panjang
beli dahulu
Kalau anak pergi
berjalan
Ibu cari sanak
pun cari isi
Induk semang
cari dahulu.
D. Pantun
:
Pantun
kilat ( Karmina)
Contoh
: Dahulu parang, sekarang besi
Dahulu
sayang, sekarang benci
Pantun
anak-anak
Contoh
: Elok rupanya sikumbang jati
Dibawa titik pulang petang
Tidak
berkata besar hati
Melihat
ibu sudah datang
Pantun
orang muda
Contoh
: Tanam melati sirama-rama
Ubur-ubur sampingan dua
Sehidup
semati kita bersama
Satu
kubur kelak berdua
Pantun
orang tua
Contoh
: Asam kandis asam gelugur
Kedua asam riang-riang
Menangis mayat dipintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
Dilihat
Dari isinya
A. Balada.
Puisi berisi kisah/cerita.balada jenis
ini terdiri dari 3 bait. Masing-masing dengan delapan larik.dengan sekema rim
a-a-b-a-b-b-c-b-c-c-b kemudian sekema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c.
larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya.
Contoh : puisi karya Sapardi Djoko Damonoyang berjudul “Balada Matinya Seorang
Pemberontak”
B. Himne
Puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air atau pahlawan.
C. Ode
Puisi sanjungan untuk orang yang berjasa. Nada dan
gayanya sangat resmi (metrumnya ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang
mulia, menyanjung baik terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum
D. Epigram
Puisi yang beisi tuntunan dan ajaran
hidup.berasal dari Bahasa Yunani Epigramma yang berarti unsur pengajaran;
didaktif; nasihat membawa kearah kebenaran, untuk dijadikan pedoman, ikhtibar
dan teladan.
E. Romansa
Puisi yang berisi luapan perasaan cinta
kasih.berasal dari Bahasa Prancis Romantique; yang berarti keindahan perasaan;
persoalan kasih sayang, rindu dendam, serta kasih mesra.
F. Elegy
Puisi yang berisi ratap
tangis/kesedihan. Berisi sajak ayau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau
keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena kematian/kepergian
seseorang.
G. Satire
Puisi yang berisi sindiran / kritik. Berasal dari
Bahas Latin Satura yang berarti sindiran; kecaman tajam terhadap sesuatu
fenomena; tidak puas hati satu golongan.
2. Puisi
Modern.
Puisi yang tidak memiliki aturan dan
cukup dengan memiliki maknadan gaya bahasa/majas.
Contoh : Api
Kutiup…
Mati
Singkat
bukan?? Itulah yang puisi yang tidak terikat aturan sajak, baris bait, dan
sebagainya itulah puisi modern.
Cara
pembutan puisi modern.
1. Menggunakan
gaya bahasa atau majas.
Gaya bahasa atau majas sudah mendarah
daging pada puisi tak dapat dipisahkan lagi antara keduanya.
Contoh : mentari tersenyum disamping lagu pagi dan bandingkan dengan matahari terbit saat burung berkicauan.
Menarik mana???
2. Menggunakan judul yang sederhana.
“Seonggok
Jagung” karya W.S. RENDRA contoh judul yang amat baik. Judul yang sesingkat
itu mampu menarik perhatian orang-orang. Judul ini memiliki makna yang tersirat
namun sulit untuk dimahami.
3. Mengisahkan
atau menceritakan sesuatu.
4. Berjalan
sesuai alur yang dikisahkan.
Bagus mana menurutmu??
Karena satu alasan walau
itu buruk. Kau dan aku bagai dua titik
Ku cintasemua walaupun
walaupun kau tak berbentuk Meski api cinta
harus dikorbankan.
5. Curahkan
segala isi dan ekspresi kamu.
Menulis puisi butuh perasaan dan hati kamu. Yang
dirasakan oleh hati itu yang akan tercurahkan pada puisi kamu.
CARA PENULISAN PUISI
Bagaimana
menulis puisi?? Terkadang kamu akan terkisima jika membaca puisi yang indah dan
kamu akan penasaran bagaimana menulis puisi tersebut. Namun sebelum kamu
menciptakan atau membuat sebuah puisi maka kita harus tahu terlebih dahulu
pengertian puisi itu sendiri. Menulis sebuah puisi tidak seperti saat kita
menulis cerita, cerpen novel atau karya tulis lainnya. PUISI itu unik karena
terdapat beberapa peraturan hanya untuk membuatnya. Peraturan itu meliputi
jumlah kata, jumlah baris, rima, irama dan sebagainya. Peraturan puisi
sebenarnya berlaku hanya pada beberapa puisi seperti puisi lama, namun anda
tidak perlu memikirkan peraturan tersebut, peraturan yang mengikat, dengan
menulis puisi bebas maupun puisi baru
Cara
menulis puisi yang baik!!!
1. Tema,
artinya anda akan membuat puisi itu seperti apa, tentang apakah puisi tersebut,
dan apayang ingin anda sampaikan melalui puisi tersebut.
2. Perasaan,
artinya perasaan apa yang ingin kamu masukan kedalam puisi tersebut, perasaan
sedih, senang, marah, semangat atau lainnya. Dengan kata-kata, kamu harus
menyampaikan apayang kamu rasakan. Puisi pada dasarnya adalah tentang emosi
yang ada pada diri penyair. Perasaan apakah yang akan timbul kepikiranmu jika
kamumelihat obyek.
3. Kondisi
atau Suasana, artinya bagaimana suasana atau kondidisi puisi kamu?? Apakah
lucu, serius, sedih atau yang lainnya. Suasana hatidapat membantu kamu
menyampaikan perasaan lebih efektif.
4. Gaya
Penulisan, artinya kamu harus menemukan gaya bahasa kamu sendiri dalam membuat
puisi sehingga menjadikan puisimu itudari pada yang lainnya. Penyair masa kini
sering menggunakan gaya bahasa dengan sajak bebas. Meskipun, untuk pemula, gaya
ini tidak memiliki struktur formal dan terdengar mudah.
Penulisan
puisi juga harus memperhatikan :
Ø
Tema (sense) merupakan pokok
persoalan yang dinyatakan oleh pengarang melalui bahasa puisinya baik secara
langsung maupun tidak langsung. Puisi harus memiliki makna tiap kata, larik,
bait dan menyeluruh.
Ø
Rasa (feeling) merupakan sikap
penyair terhadap pokok persoalan yang terdapat dalam puisinya. Dalam menghadapi
suatu persoalan, biasanya setiap penyair memiliki pandangan yang berbeda.
Pengungkapan tema dan rasa berkaitan erat dengan latar belakang psikologi dan
sosial penyair, seperti latar belakang pendidikan, jenis kelamin, kelas sosial,
usia, agama, kedudukan dalam masyarakat, pengalaman pengetahuan, psikologis dan
sosiologis.
Ø
Nada (tone) merupakan sikap penyair
terhadap pembacanya yang berhubungan juga dengan tema dan rasa. Pada umumnya,
penyair dapat menyampaikan tema dengan nada yang bersikap persuatif, sugestif,
menganggap bodoh dan rendah pembaca maupun nada sombong/angkuh dan lain
sebagainya.
Ø
Tujuan (intention) merupakan amanat
yang mendorong penyair untuk menghasilkan ciptaan puisi tersebut. Tujuan ini
dapat dicari/ditemui dalam puisinya dan bergantung pada pandangan hidup,
cita-cita, pekerjaan dan keyakinan yang dianut oleh penyair.
Diatas
secara ringkasnya dan dibawah ini saya jabarkan mengenai pembuatan puisi :
STRUKTUR BATIN DAN STRUKTUR FISIK
Puisi
terdiri dari dua unsur, yaitu unsur
tematik (unsur semantik) dan unsur sintaksis. Unsur tematik atau unsur semantik menuju ke
arah struktur batin sedangkan unsur sintaksis mengarah pada struktur fisik
puisi.
STRUKTUR BATIN DALAM
STRUKTUR BATIN DALAM
Struktur
batin adalah makna yang terkandung dalam puisi yang membutuhkan penghayatan.
Struktur batin terdiri dari (1) ide/tema, (2) perasaan, (3) nada dan suasana,
(4) amanat atau pesan.
STRUKTUR FISIK DALAM
Struktur fisik adalah struktur yang bisa kita lihat melalui bahasanya yang tampak. Struktur fisik terdiri dari (1) irama; (2) rima; (3) diksi; dan (4) licentia poetica.
(1) IRAMA
Irama atau ritme berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Dalam puisi, irama berupa pengulangan kata dapat menciptakan keindahan puisi. Irama dapat juga berarti pergantian keras-lembut, tinggi-rendah, atau panjang-pendek kata secara berulang-ulang bertujuan menciptakan gelombang yang memperindah puisi.
D O A
Karya : Chairil Anwar
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
dalam termangu
aku masih menyebut namamu
STRUKTUR FISIK DALAM
Struktur fisik adalah struktur yang bisa kita lihat melalui bahasanya yang tampak. Struktur fisik terdiri dari (1) irama; (2) rima; (3) diksi; dan (4) licentia poetica.
(1) IRAMA
Irama atau ritme berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Dalam puisi, irama berupa pengulangan kata dapat menciptakan keindahan puisi. Irama dapat juga berarti pergantian keras-lembut, tinggi-rendah, atau panjang-pendek kata secara berulang-ulang bertujuan menciptakan gelombang yang memperindah puisi.
D O A
Karya : Chairil Anwar
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
dalam termangu
aku masih menyebut namamu
biar
susah sungguh
mengingat
Kau penuh seluruh
cayaMu
panas suci
tinggal
kerdip lilin di kelam sunyi
(2) RIMA
Rima (persamaan bunyi) adalah pengulangan bunyi berselang, baik dalam larik maupun pada akhir puisi yang berdekatan. Bunyi yang berima itu dapat ditampilkan oleh tekanan, nada tinggi, atau perpanjangan suara. Berguna untuk menambah keindahan suatu puisi.
Contoh :
Berakit-rakit ke hulu
berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
bersenang-senang kemudian.
(3) DIKSI
Diksi, atau pilihan kata merujuk pada gaya ekspresi oleh penulis. Pengertian dari “diksi” yang lebih umum digambarkan dengan enunsiasi kata — seni berbicara yang jelas yang memungkinkan setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini lebih menekankan pada pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya bahasa.
Rima (persamaan bunyi) adalah pengulangan bunyi berselang, baik dalam larik maupun pada akhir puisi yang berdekatan. Bunyi yang berima itu dapat ditampilkan oleh tekanan, nada tinggi, atau perpanjangan suara. Berguna untuk menambah keindahan suatu puisi.
Contoh :
Berakit-rakit ke hulu
berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
bersenang-senang kemudian.
(3) DIKSI
Diksi, atau pilihan kata merujuk pada gaya ekspresi oleh penulis. Pengertian dari “diksi” yang lebih umum digambarkan dengan enunsiasi kata — seni berbicara yang jelas yang memungkinkan setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini lebih menekankan pada pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya bahasa.
(4) LICENTIA
POETICA
Licentia poetica, suatu istilah yang kerap terdengar dari dunia sastra. Yaitu suatu lisensi atau izin tak tertulis yang diberikan kepada penulis karya sastra — termasuk penyair — untuk menerjang kaidah tata bahasa Indonesia yang baik dan benar demi menimbulkan efek-efek tertentu sesuai keinginannya. Singkatnya dengan licentia poetica, seorang penulis ”dihalalkan” mempergunakan kaidah bahasa sendiri meski menyimpang.
EMPAT LANGKAH MENULIS
Licentia poetica, suatu istilah yang kerap terdengar dari dunia sastra. Yaitu suatu lisensi atau izin tak tertulis yang diberikan kepada penulis karya sastra — termasuk penyair — untuk menerjang kaidah tata bahasa Indonesia yang baik dan benar demi menimbulkan efek-efek tertentu sesuai keinginannya. Singkatnya dengan licentia poetica, seorang penulis ”dihalalkan” mempergunakan kaidah bahasa sendiri meski menyimpang.
EMPAT LANGKAH MENULIS
Pada
dasarnya, menulis puisi hanya membutuhkan empat langkah :
(1) PENCARIAN IDE, dilakukan dengan mengumpulkan atau menggali informasi melalui membaca, melihat, dan merasakan terhadap kejadian/peristiwa dan pengalaman pribadi, sosial masyarakat, ataupun universal (kemanusiaan dan ketuhanan).
(2) PERENUNGAN, yakni memilih atau menyaring informasi (masalah, tema, ide, gagasan) yang menarik dari tema yang didapat. Kemudian memikirkan, merenungkan, dan menafsirkan sesuai dengan konteks, tujuan, dan pengetahuan yang dimiliki.
(1) PENCARIAN IDE, dilakukan dengan mengumpulkan atau menggali informasi melalui membaca, melihat, dan merasakan terhadap kejadian/peristiwa dan pengalaman pribadi, sosial masyarakat, ataupun universal (kemanusiaan dan ketuhanan).
(2) PERENUNGAN, yakni memilih atau menyaring informasi (masalah, tema, ide, gagasan) yang menarik dari tema yang didapat. Kemudian memikirkan, merenungkan, dan menafsirkan sesuai dengan konteks, tujuan, dan pengetahuan yang dimiliki.
(3) PENULISAN, merupakan
proses yang paling penting dan rumit. Penulisan ini mengerahkan energi
kreatifitas (kemampuan daya cipta), intuisi, dan imajinasi (peka rasa dan
cerdas membayangkan), serta pengalaman dan pengetahuan. Untuk itulah, tahap
penulisan hendaknya mencari dan menemukan kata atau pun kalimat yang tepat,
singkat, padat, indah, dan mengesankan. Hasilnya kata-kata tersebut menjadi
bermakna, terbentuk, tersusun, dan terbaca sebagai puisi.
(4) PERBAIKAN atau REVISI, yaitu pembacaan ulang
terhadap puisi yang telah diciptakan. Ketelitian dan kejelian untuk mengoreksi
rangkaian kata, kalimat, baris, bait, sangat dibutuhkan. Kemudian mengubah,
mengganti, atau menyusun kembali setiap kata atau kalimat yang tidak atau
kurang tepat. Oleh karena itu, proses revisi atau perbaikan ini terkadang
memakan waktu yang cukup lama hingga puisi tersebut telah dianggap ''siap untuk
dipublikasi”, tidak dapat diubah atau diperbaiki lagi oleh penulisnya.
SUMBER IDE
Ide penulisan bisa berdasarkan catatan — khususnya catatan harian (diary) — dan atau dari hasil perenungan.
SUMBER IDE
Ide penulisan bisa berdasarkan catatan — khususnya catatan harian (diary) — dan atau dari hasil perenungan.
Contoh
: Buku Harian dan Renungan
PENGEMBANGAN IDE MENJADI TEMA
PENGEMBANGAN IDE MENJADI TEMA
Menulis
puisi termasuk jenis ketrampilan. Sebagaimana halnya ketrampilan yang lain,
pemerolehannya harus melalui belajar dan berlatih. Makin sering belajar dan
makin giat berlatih tentu makin cepat trampil.
Dalam menulis puisi, yang pertama-tama dilakukan adalah menentukan tema. Tema adalah pokok persoalan yang akan dikemukakan dalam bentuk puisi. Agar lebih jelas perhatikan puisi berikut :
DIALOG SEPASANG BUNGA
Karya : Slamet Wahedi
Aku anggrek
lahir di tengah pengap hamparan biru langit
dari sekerling matahari
awan menyapu muka, meninggalkan gerimis-gerimis tua
dan embun terasa bayangan maya
sirna sebelum senja kukencani
Dalam menulis puisi, yang pertama-tama dilakukan adalah menentukan tema. Tema adalah pokok persoalan yang akan dikemukakan dalam bentuk puisi. Agar lebih jelas perhatikan puisi berikut :
DIALOG SEPASANG BUNGA
Karya : Slamet Wahedi
Aku anggrek
lahir di tengah pengap hamparan biru langit
dari sekerling matahari
awan menyapu muka, meninggalkan gerimis-gerimis tua
dan embun terasa bayangan maya
sirna sebelum senja kukencani
Aku melati dan kau anggrek
di tepian cakrawala pucuk kita meninju langit
menggebuk-gebuk nafas angin
dan bermimpi membangun riak sungai tua
di antara tangkai-tangkai hijau
Kami anggrek dan melati bersemi
membukakkan hari-hari yang kian suram
yang kami harkati dengan bulan kami sendiri
kami sepasang bunga tercampakkan
seperti waktu luruh menyapa jiwa
di tepian cakrawala pucuk kita meninju langit
menggebuk-gebuk nafas angin
dan bermimpi membangun riak sungai tua
di antara tangkai-tangkai hijau
Kami anggrek dan melati bersemi
membukakkan hari-hari yang kian suram
yang kami harkati dengan bulan kami sendiri
kami sepasang bunga tercampakkan
seperti waktu luruh menyapa jiwa
Puisi
di atas berjudul “Dialog Sepasang Bunga”. Judul yang cukup menggelitik. Bunga
apa yang sedang berdialog dan apa yang didialogkan, begitu kita mungkin akan
bertanya sebelum membaca puisi tersebut. Ternyata, bunga anggrek dan bunga
melati. Peristiwa yang menimpa mereka (dua bunga itu) adalah kesuraman hidup,
tercampakkan seperti waktu luruh menyapa jiwa.
Menyatakan
kesuraman hidup dengan menghadirkan sosok bunga memang menarik. Akan tetapi,
benarkah Wahedi semata-mata sedang berbicara tentang bunga? Bisa ya, bisa
tidak. Yang jelas menimpa bunga atau bukan, pokok persoalan yang digarap dalam
puisi itu adalah kemanusiaan : kelahiran yang pengap, kemayaan hidup, upaya
melawan alam, mimpi tentang sesuatu, tetapi menghadapi hari-hari suram.
Demikianlah puisi meskipun menggunakan personifikasi dan simbol, pada dasarnya
berbicara tentang manusia. Jadi tema puisi di atas adalah kemanusiaan.
Jika
sudah menemukan dan menentukan tema yang akan ditulis menjadi puisi, kita perlu
mengembangkan tema itu : hal-hal apa yang akan dikemukakan dalan puisi. Hal-hal
yang sudah akan dikemukakan dalam puisi itu dapat dicari melalui pemikiran atau
pengamatan. Secara mudah, misalnya kita akan menulis puisi yang berhubungan
dengan kehidupan seorang anak kecil penjual koran yang harus membiayai
sekolahnya sendiri. Setelah menenetukan masalah tersebut kita akan melakukan
pengamatan di lapangan tentang kehidupan si penjual koran. Dari hasil
pengamatan itu kemudian dipilih dan ditentukan mana yang akan diungkapkan dalam
puisi.
PENUTUP
PRAKTEK LEBIH MUDAH DIBANDING TEORI
Pada
umumnya para penyair terkenal belajar menulis puisi dengan autodidact, tidak
melalui bangku Fakultas Sastra. Sarjana Sastra kebanyakan menjadi pengamat,
hanya sedikit yang benar-benar menjadi penyair.
Menulis
puisi ibarat belajar membuat kue. Belilah buku teori membuat kue lalu bacalah.
Dijamin Anda tidak pernah akan trampil membuat kue dibanding kalau Anda belajar
sambil praktek (learning by doing). Tentunya mula-mula tidak akan
sebagus pembuat kue profesional, namun dari pengalaman dan trial and error berulang-ulang,
akhirnya Anda akan menjadi profesional juga.
Sudah tentu dibutuhkan wawasan mengenai struktur batin dan struktur fisik puisi seperti serba sedikit diuraikan di atas. Dibutuhkan pengetahuan mengenai irama, rima, dan diksi, walaupun tidak terlalu mendalam. Karena dalam mengungkapkan kata-kata ke bentuk puisi diperlukan pemilihan kata-kata yang tepat, bukan hanya tepat maknanya melainkan juga harus tepat bunyi-bunyinya. Penyusunan kata-kata itu harus sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan estetis (indah). Selain itu, pendayagunaan majas dan personifikasi harus diperhatikan agar puisi yang dibuat semakin bagus.
Sudah tentu dibutuhkan wawasan mengenai struktur batin dan struktur fisik puisi seperti serba sedikit diuraikan di atas. Dibutuhkan pengetahuan mengenai irama, rima, dan diksi, walaupun tidak terlalu mendalam. Karena dalam mengungkapkan kata-kata ke bentuk puisi diperlukan pemilihan kata-kata yang tepat, bukan hanya tepat maknanya melainkan juga harus tepat bunyi-bunyinya. Penyusunan kata-kata itu harus sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan estetis (indah). Selain itu, pendayagunaan majas dan personifikasi harus diperhatikan agar puisi yang dibuat semakin bagus.
Menulis
puisi berbeda dengan menulis esai (artikel). Kalau dalam penulisan esai kita
dituntut untuk menggunakan kata yang tegas dan tidak berbelit-belit, maka dalam
penulisan puisi justru sebaliknya. Kita dituntut untuk pandai
mengimprovisasikan sebuah keadaan menjadi rangkaian kata-kata yang enak dibaca
dan penuh dengan makna tersembunyi.
Mari
kita mulai dengan praktek : Ketika Anda duduk-duduk di taman, Anda melihat
seekor kucing sedang makan tikus dengan sangat rakus, sehingga menimbulkan
bunyi kriuk-kriuk yang begitu menjijikkan. Maka kalau keadaan itu
diterjemahkan ke dalam satu bentuk puisi akan menjadi seperti ini :
Lihatlah...
kucing jantan sedang asyik mencumbu kepala tikus ...
Mengapa kita harus memilih kata “lihatlah,” bukan “kulihat”?
Dalam konteks ini tujuan kita adalah mencoba mengajak pembaca untuk ikut merasakan apa yang sedang kita rasakan. Nah, kalau kita memilih kata kulihat, maka berarti kalimat tersebut hanya ditujukan untuk diri kita sendiri, bukan untuk pembacanya.
Mengapa kita harus memilih frasa “kucing jantan”, bukan “kucing betina” atau “kucing” saja?
Tujuannya di sini adalah sebagai penegasan untuk memperkuat makna, sebab kata jantan itu sendiri sudah memiliki makna kuat, garang, ganas dsb. Kalau kita hanya memakai kata kucing saja, kalimat tersebut akan menjadi kurang tegas, terlebih kalau kita memilih kata kucing betina. Itu justru akan membuat lemah makna yg terkandung.
Lalu mengapa kita harus memilih kata “mencumbu”
bukan “memakan”?
Tujuannya adalah untuk memperluas makna. Kalau kita pilih kata memakan, paling pembaca mikirnya begini: Halah, cuma ‘gitu doang, memasukkan makanan ke dalam mulut. Akan sangat jauh berbeda dengan ketika kita memilih kata mencumbu. Pembaca akan mendapatkan banyak imajinasi dari pemakaian kata mencumbu di sini. Bisa diartikan memeluk, menciumi, menjilati, melumat, dsb.
Mengapa “kepala tikus”?
Frasa kepala tikus di sini berfungsi untuk memfokuskan perhatian. Kalau kita memilih frasa perut tikus, maka perhatian pembaca akan melebar ke mana-mana, karena di dalam perut yang begitu empuk terdapat isi yang tentu saja ikut termakan dan dipilah-pilah lagi oleh si kucing. Sangat berbeda ketika kita memilih frasa kepala tikus. Kepala tikus mengandung makna bahwa tikus yang dimakan itu hanya satu. Selain itu, frasa tersebut akan membuat pembaca berimajinasi begini : betapa gemeretaknya ketika gigi-gigi kucing itu sedang beradu dengan tempurung kepala tikus yang begitu keras. Pastilah liur si kucing sampai berceceran dan tentu saja itu sangat sangat menjijikkan.
Tujuannya adalah untuk memperluas makna. Kalau kita pilih kata memakan, paling pembaca mikirnya begini: Halah, cuma ‘gitu doang, memasukkan makanan ke dalam mulut. Akan sangat jauh berbeda dengan ketika kita memilih kata mencumbu. Pembaca akan mendapatkan banyak imajinasi dari pemakaian kata mencumbu di sini. Bisa diartikan memeluk, menciumi, menjilati, melumat, dsb.
Mengapa “kepala tikus”?
Frasa kepala tikus di sini berfungsi untuk memfokuskan perhatian. Kalau kita memilih frasa perut tikus, maka perhatian pembaca akan melebar ke mana-mana, karena di dalam perut yang begitu empuk terdapat isi yang tentu saja ikut termakan dan dipilah-pilah lagi oleh si kucing. Sangat berbeda ketika kita memilih frasa kepala tikus. Kepala tikus mengandung makna bahwa tikus yang dimakan itu hanya satu. Selain itu, frasa tersebut akan membuat pembaca berimajinasi begini : betapa gemeretaknya ketika gigi-gigi kucing itu sedang beradu dengan tempurung kepala tikus yang begitu keras. Pastilah liur si kucing sampai berceceran dan tentu saja itu sangat sangat menjijikkan.
Mulailah
menulis. Jangan terlampau terikat dengan teori. Atau kondisinya dibalik :
menulis (praktek) lebih dahulu. Teori belakangan.
Casino Hotel in Wyandotte, Oklahoma - Mapyro
BalasHapusThe Cherokee 광양 출장마사지 Casino Resort is home 양주 출장안마 to two 춘천 출장마사지 luxury hotel 김해 출장안마 towers. The Cherokee Casino, Hotel and Spa offer amenities like an indoor 서귀포 출장마사지 pool and Rating: 3.6 · 1,005 votes