Translate

Selasa, 11 November 2014

CARA MEMBUAT PUISI


SEBELUM BELAJAR OTODIDAK MENGENAI BAGAIMANA BELAJAR MENULIS PUISI SILAHKAN KINJUNGI camuserbees.blogspot.com 


PENGERTIN PUISI

            Kata puisi berasal dari bahasa Yunani yakni kaya “poites” yang berarti pembuat, pembangunan dan pembentuk. Sedangkan pada bahasa latin yakni kata “poeta”yang berarti menyair atau membangun.
Pengertian puisi didefinisikan hasil seni sastra yang penyusunan kata-katanya sesuai syarat tertentu dengan menggunakan sajak, irama atau pun makna kiasan. Selain itu pengertian puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata, irama dan rima sebagai media penyampaian untuk mengekpresikan perasaan dan pikiran penyair menciptakan ilusi dan imajinasi serta dapat diubah dalam bentuk bahasa yang memiliki kesan yang mendalam. Dalam puisi, keindahan ilusi dan penataan unsur bunyi merupakan gambaran gagasan oleh penyair.


PEMBAGIAN PUISI

1.     Puisi Lama.
Puisi yang mesih terkait aturan seperti sajak, kecap,bait, dll.

Macam-macam Puisi Lama

      A.    Mantra
Mantra adalah merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.

Contoh            :           assalammua’alaikumputri satulung besar
                                    Yang beralun berilir simayang
                                    Mari kecik, kemari
                                    Aku menyanggul rambutmu
                                    Aku membawa sadap ganding
                                    Akan membasuh mukamu
      B.     Gurindam
Gurindam puisi lama dari Tamil (India)

Ciri-ciri gurindam :
A.       Sajak terakhir sama a-a, b-b, c-c dst.
B.      Dari Tamil.
C.       Isinya merupakan nasihat yang cukup jelas yakni menjelaskan atau menampilakan sesuatu sebab akibat.




Contoh                        :           Kurang pikir kurang siasat
                       Tentu dirimu akan tersesat
      C.     Syair
Syair puisi lama dari Arab

Ciri-ciri syair :
A.       Setiap bait terdiri dari 4 baris
B.      Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
C.       Bersajak a – a – a – a – a
D.      Isi semua tidak ada sampiran
E.       Berasal dari Arab

Contoh                        :           Pada zaman dahulu kala
                       Tersebutlah sebuah cerita
                       Sebuah negri yang aman dan sentosa
                      Dipimpin sang raja nan bijaksana
      D.    Pantun
Pantun adalah puisi melayu asli yang cukup mengakar dan membudaya dalam masyarakat.

Ciri-ciri pantun :
A.        Setiap bait terdiei dari 4 baris
B.      Baris 1 dan 2 sebagai sampiran
C.       Baris 3 dan 4 merupakan isi
D.      Bersajak A – B – A – B
E.       Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
F.       Berasal dari Melayu (Indonesia)
Contoh            :           Ada papaya ada mentimun
                                    Ada mangga ada salak
           Daripada duduk melamun
           Mari kita membaca sajak
Dilihat dari bentuk

      A.    Pantun Biasa.
      B.     Seloka
Pantun berkait yang tidak cuku dengan satu bait saja sebab pantun berkait merupakan jalinan atas beberapa bait.




Ciri-ciri Seloka :
A.  Baris kedua dan keempat pada bait pertama dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait kedua.
B.   Baris kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait ketiga.
C.   Dan seterusnya

Contoh                        :          Lurus jalan ke Payakumbuh,
                       Kayu jati bertimbal jalan
                       Dimana hati tak akan rusuh
                       Ibu mati bapak berjalan
                       Kayu jati bertimbal tangan
                       Turun angin patahlah dahan
                       Ibu mati bapak berjalan
                       Kemana untung diserahkan.


      C.     Talibun.
Pantun jumlah barisnya lebih dari 4 baris, tetapi jumlahnya harus genap 6.8.10 dan seterusnya. Jika satu bait berisi 6 baris (3 sampiran 3 isi). Jika satu bait berisi 8 baris (4 sampiran 4 isi).

Contoh                        :           Kalau anak pergi ke pecan
                Yu beli beranak pun beli sampiran
                Ikan panjang beli dahulu

                Kalau anak pergi berjalan
                Ibu cari sanak pun cari isi
                Induk semang cari dahulu. 
         D.    Pantun :          
Pantun kilat ( Karmina)
                        Contoh :          Dahulu parang, sekarang besi
                Dahulu sayang, sekarang benci







Pantun anak-anak
Contoh :          Elok rupanya sikumbang jati
                                Dibawa titik pulang petang
        Tidak berkata besar hati
        Melihat ibu sudah datang
Pantun orang muda
                        Contoh :          Tanam melati sirama-rama
                                                Ubur-ubur sampingan dua
                Sehidup semati kita bersama
                Satu kubur kelak berdua
Pantun orang tua
                        Contoh :          Asam kandis asam gelugur
                                                Kedua asam riang-riang
                                                Menangis mayat dipintu kubur
                                                Teringat badan tidak sembahyang


Dilihat Dari isinya

      A.    Balada.
Puisi berisi kisah/cerita.balada jenis ini terdiri dari 3 bait. Masing-masing dengan delapan larik.dengan sekema rim a-a-b-a-b-b-c-b-c-c-b kemudian sekema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya. Contoh : puisi karya Sapardi Djoko Damonoyang berjudul “Balada Matinya Seorang Pemberontak”

      B.     Himne
Puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air atau pahlawan.

      C.     Ode
Puisi sanjungan untuk orang yang berjasa. Nada dan gayanya sangat resmi (metrumnya ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, menyanjung baik terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum







      D.    Epigram
Puisi yang beisi tuntunan dan ajaran hidup.berasal dari Bahasa Yunani Epigramma yang berarti unsur pengajaran; didaktif; nasihat membawa kearah kebenaran, untuk dijadikan pedoman, ikhtibar dan teladan.
      
       E.     Romansa
Puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.berasal dari Bahasa Prancis Romantique; yang berarti keindahan perasaan; persoalan kasih sayang, rindu dendam, serta kasih mesra.
       F.      Elegy
Puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan. Berisi sajak ayau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena kematian/kepergian seseorang.
      G.    Satire
Puisi yang berisi sindiran / kritik. Berasal dari Bahas Latin Satura yang berarti sindiran; kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak puas hati satu golongan.

      2.      Puisi Modern.
Puisi yang tidak memiliki aturan dan cukup dengan memiliki maknadan gaya bahasa/majas.

Contoh :                      Api
Kutiup… Mati

Singkat bukan?? Itulah yang puisi yang tidak terikat aturan sajak, baris bait, dan sebagainya itulah puisi modern.


Cara pembutan puisi modern.

      1.      Menggunakan gaya bahasa atau majas.
Gaya bahasa atau majas sudah mendarah daging pada puisi tak dapat dipisahkan lagi antara keduanya.

Contoh : mentari tersenyum disamping lagu pagi  dan bandingkan dengan matahari terbit saat burung berkicauan.

Menarik mana???



2.      Menggunakan judul yang sederhana.
“Seonggok Jagung” karya W.S. RENDRA contoh judul yang amat baik. Judul yang sesingkat itu mampu menarik perhatian orang-orang. Judul ini memiliki makna yang tersirat namun sulit untuk dimahami.

       3.      Mengisahkan atau menceritakan sesuatu.

       4.      Berjalan sesuai alur yang dikisahkan.
Bagus mana menurutmu??

Karena satu alasan walau itu buruk.                                             Kau dan aku bagai dua titik
Ku cintasemua walaupun walaupun kau tak berbentuk              Meski api cinta harus dikorbankan.

      5.      Curahkan segala isi dan ekspresi kamu.
Menulis puisi butuh perasaan dan hati kamu. Yang dirasakan oleh hati itu yang akan tercurahkan pada puisi kamu.



CARA PENULISAN PUISI

Bagaimana menulis puisi?? Terkadang kamu akan terkisima jika membaca puisi yang indah dan kamu akan penasaran bagaimana menulis puisi tersebut. Namun sebelum kamu menciptakan atau membuat sebuah puisi maka kita harus tahu terlebih dahulu pengertian puisi itu sendiri. Menulis sebuah puisi tidak seperti saat kita menulis cerita, cerpen novel atau karya tulis lainnya. PUISI itu unik karena terdapat beberapa peraturan hanya untuk membuatnya. Peraturan itu meliputi jumlah kata, jumlah baris, rima, irama dan sebagainya. Peraturan puisi sebenarnya berlaku hanya pada beberapa puisi seperti puisi lama, namun anda tidak perlu memikirkan peraturan tersebut, peraturan yang mengikat, dengan menulis puisi bebas maupun puisi baru

Cara menulis puisi yang baik!!!

1.      Tema, artinya anda akan membuat puisi itu seperti apa, tentang apakah puisi tersebut, dan apayang ingin anda sampaikan melalui puisi tersebut.
2.      Perasaan, artinya perasaan apa yang ingin kamu masukan kedalam puisi tersebut, perasaan sedih, senang, marah, semangat atau lainnya. Dengan kata-kata, kamu harus menyampaikan apayang kamu rasakan. Puisi pada dasarnya adalah tentang emosi yang ada pada diri penyair. Perasaan apakah yang akan timbul kepikiranmu jika kamumelihat obyek.

3.      Kondisi atau Suasana, artinya bagaimana suasana atau kondidisi puisi kamu?? Apakah lucu, serius, sedih atau yang lainnya. Suasana hatidapat membantu kamu menyampaikan perasaan lebih efektif.
4.      Gaya Penulisan, artinya kamu harus menemukan gaya bahasa kamu sendiri dalam membuat puisi sehingga menjadikan puisimu itudari pada yang lainnya. Penyair masa kini sering menggunakan gaya bahasa dengan sajak bebas. Meskipun, untuk pemula, gaya ini tidak memiliki struktur formal dan terdengar mudah.

Penulisan puisi juga harus memperhatikan :
Ø  Tema (sense) merupakan pokok persoalan yang dinyatakan oleh pengarang melalui bahasa puisinya baik secara langsung maupun tidak langsung. Puisi harus memiliki makna tiap kata, larik, bait dan menyeluruh.
Ø  Rasa (feeling) merupakan sikap penyair terhadap pokok persoalan yang terdapat dalam puisinya. Dalam menghadapi suatu persoalan, biasanya setiap penyair memiliki pandangan yang berbeda. Pengungkapan tema dan rasa berkaitan erat dengan latar belakang psikologi dan sosial penyair, seperti latar belakang pendidikan, jenis kelamin, kelas sosial, usia, agama, kedudukan dalam masyarakat, pengalaman pengetahuan, psikologis dan sosiologis.
Ø  Nada (tone) merupakan sikap penyair terhadap pembacanya yang berhubungan juga dengan tema dan rasa. Pada umumnya, penyair dapat menyampaikan tema dengan nada yang bersikap persuatif, sugestif, menganggap bodoh dan rendah pembaca maupun nada sombong/angkuh dan lain sebagainya.
Ø  Tujuan (intention) merupakan amanat yang mendorong penyair untuk menghasilkan ciptaan puisi tersebut. Tujuan ini dapat dicari/ditemui dalam puisinya dan bergantung pada pandangan hidup, cita-cita, pekerjaan dan keyakinan yang dianut oleh penyair.

Diatas secara ringkasnya dan dibawah ini saya jabarkan mengenai pembuatan puisi :


STRUKTUR BATIN DAN STRUKTUR FISIK

Puisi terdiri dari dua unsur, yaitu unsur tematik (unsur semantik) dan unsur sintaksis. Unsur tematik atau unsur semantik menuju ke arah struktur batin sedangkan unsur sintaksis mengarah pada struktur fisik puisi.

STRUKTUR BATIN DALAM

Struktur batin adalah makna yang terkandung dalam puisi yang membutuhkan penghayatan. Struktur batin terdiri dari (1) ide/tema, (2) perasaan, (3) nada dan suasana, (4) amanat atau pesan.

STRUKTUR FISIK DALAM
Struktur fisik adalah struktur yang bisa kita lihat melalui bahasanya yang tampak. Struktur fisik terdiri dari (1) irama; (2) rima; (3) diksi; dan (4) licentia poetica.

(1) IRAMA
Irama atau ritme berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Dalam puisi, irama berupa pengulangan kata dapat menciptakan keindahan puisi. Irama dapat juga berarti pergantian keras-lembut, tinggi-rendah, atau panjang-pendek kata secara berulang-ulang bertujuan menciptakan gelombang yang memperindah puisi.
          D O A
          Karya : Chairil Anwar

          kepada pemeluk teguh 

Tuhanku
dalam termangu
aku masih menyebut namamu         
biar susah sungguh         
mengingat Kau penuh seluruh         
cayaMu panas suci         
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi         

(2) RIMA
Rima (persamaan bunyi) adalah pengulangan bunyi berselang, baik dalam larik maupun pada akhir puisi yang berdekatan. Bunyi yang berima itu dapat ditampilkan oleh tekanan, nada tinggi, atau perpanjangan suara. Berguna untuk menambah keindahan suatu puisi.

Contoh :
          Berakit-rakit ke hulu
          berenang-renang ke tepian
          Bersakit-sakit dahulu
          bersenang-senang kemudian.

(3) DIKSI
Diksi, atau pilihan kata merujuk pada gaya ekspresi oleh penulis. Pengertian dari “diksi” yang lebih umum digambarkan dengan enunsiasi kata — seni berbicara yang jelas yang memungkinkan setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini lebih menekankan pada pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya bahasa.

 (4) LICENTIA POETICA
Licentia poetica,  suatu istilah yang kerap terdengar dari dunia sastra. Yaitu suatu lisensi atau izin tak tertulis yang diberikan kepada penulis karya sastra — termasuk penyair — untuk menerjang kaidah tata bahasa Indonesia yang baik dan benar demi menimbulkan efek-efek tertentu sesuai keinginannya. Singkatnya dengan licentia poetica, seorang penulis ”dihalalkan” mempergunakan kaidah bahasa sendiri meski menyimpang.


EMPAT LANGKAH MENULIS

Pada dasarnya, menulis puisi hanya membutuhkan empat langkah :

(1) PENCARIAN IDE, dilakukan dengan mengumpulkan atau menggali informasi melalui membaca, melihat, dan merasakan terhadap kejadian/peristiwa dan pengalaman pribadi, sosial masyarakat, ataupun universal (kemanusiaan dan ketuhanan).

(2) PERENUNGAN, yakni memilih atau menyaring informasi (masalah, tema, ide, gagasan) yang menarik dari tema yang didapat. Kemudian memikirkan, merenungkan, dan menafsirkan sesuai dengan konteks, tujuan, dan pengetahuan yang dimiliki.

(3) PENULISAN, merupakan proses yang paling penting dan rumit. Penulisan ini mengerahkan energi kreatifitas (kemampuan daya cipta), intuisi, dan imajinasi (peka rasa dan cerdas membayangkan), serta pengalaman dan pengetahuan. Untuk itulah, tahap penulisan hendaknya mencari dan menemukan kata atau pun kalimat yang tepat, singkat, padat, indah, dan mengesankan. Hasilnya kata-kata tersebut menjadi bermakna, terbentuk, tersusun, dan terbaca sebagai puisi.

(4) PERBAIKAN atau REVISI, yaitu pembacaan ulang terhadap puisi yang telah diciptakan. Ketelitian dan kejelian untuk mengoreksi rangkaian kata, kalimat, baris, bait, sangat dibutuhkan. Kemudian mengubah, mengganti, atau menyusun kembali setiap kata atau kalimat yang tidak atau kurang tepat. Oleh karena itu, proses revisi atau perbaikan ini terkadang memakan waktu yang cukup lama hingga puisi tersebut telah dianggap ''siap untuk dipublikasi”, tidak dapat diubah atau diperbaiki lagi oleh penulisnya.

SUMBER IDE
Ide penulisan bisa berdasarkan catatan — khususnya catatan harian (diary) — dan atau dari hasil perenungan.

Contoh : Buku Harian dan Renungan

PENGEMBANGAN IDE MENJADI TEMA

Menulis puisi termasuk jenis ketrampilan. Sebagaimana halnya ketrampilan yang lain, pemerolehannya harus melalui belajar dan berlatih. Makin sering belajar dan makin giat berlatih tentu makin cepat trampil.
Dalam menulis puisi, yang pertama-tama dilakukan adalah menentukan tema. Tema adalah pokok persoalan yang akan dikemukakan dalam bentuk puisi. Agar lebih jelas perhatikan puisi berikut :


          DIALOG SEPASANG BUNGA
          Karya : Slamet Wahedi

          Aku anggrek
          lahir di tengah pengap hamparan biru langit
          dari sekerling matahari
          awan menyapu muka, meninggalkan gerimis-gerimis tua
          dan embun terasa bayangan maya
          sirna sebelum senja kukencani


         
 Aku melati dan kau anggrek
         di tepian cakrawala pucuk kita meninju langit
         menggebuk-gebuk nafas angin
         dan bermimpi membangun riak sungai tua
         di antara tangkai-tangkai hijau

             Kami anggrek dan melati bersemi
             membukakkan hari-hari yang kian suram
             yang kami harkati dengan bulan kami sendiri
             kami sepasang bunga tercampakkan
             seperti waktu luruh menyapa jiwa

Puisi di atas berjudul “Dialog Sepasang Bunga”. Judul yang cukup menggelitik. Bunga apa yang sedang berdialog dan apa yang didialogkan, begitu kita mungkin akan bertanya sebelum membaca puisi tersebut. Ternyata, bunga anggrek dan bunga melati. Peristiwa yang menimpa mereka (dua bunga itu) adalah kesuraman hidup, tercampakkan seperti waktu luruh menyapa jiwa.

Menyatakan kesuraman hidup dengan menghadirkan sosok bunga memang menarik. Akan tetapi, benarkah Wahedi semata-mata sedang berbicara tentang bunga? Bisa ya, bisa tidak. Yang jelas menimpa bunga atau bukan, pokok persoalan yang digarap dalam puisi itu adalah kemanusiaan : kelahiran yang pengap, kemayaan hidup, upaya melawan alam, mimpi tentang sesuatu, tetapi menghadapi hari-hari suram. Demikianlah puisi meskipun menggunakan personifikasi dan simbol, pada dasarnya berbicara tentang manusia. Jadi tema puisi di atas adalah kemanusiaan.


Jika sudah menemukan dan menentukan tema yang akan ditulis menjadi puisi, kita perlu mengembangkan tema itu : hal-hal apa yang akan dikemukakan dalan puisi. Hal-hal yang sudah akan dikemukakan dalam puisi itu dapat dicari melalui pemikiran atau pengamatan. Secara mudah, misalnya kita akan menulis puisi yang berhubungan dengan kehidupan seorang anak kecil penjual koran yang harus membiayai sekolahnya sendiri. Setelah menenetukan masalah tersebut kita akan melakukan pengamatan di lapangan tentang kehidupan si penjual koran. Dari hasil pengamatan itu kemudian dipilih dan ditentukan mana yang akan diungkapkan dalam puisi.



PENUTUP

PRAKTEK LEBIH MUDAH DIBANDING TEORI

Pada umumnya para penyair terkenal belajar menulis puisi dengan autodidact,  tidak melalui bangku Fakultas Sastra. Sarjana Sastra kebanyakan menjadi pengamat, hanya sedikit yang benar-benar menjadi penyair.
Menulis puisi ibarat belajar membuat kue. Belilah buku teori membuat kue lalu bacalah. Dijamin Anda tidak pernah akan trampil membuat kue dibanding kalau Anda belajar sambil praktek (learning by doing).  Tentunya mula-mula tidak akan sebagus pembuat kue profesional, namun dari pengalaman dan trial and error  berulang-ulang, akhirnya Anda akan menjadi profesional juga.
Sudah tentu dibutuhkan wawasan mengenai struktur batin dan struktur fisik puisi seperti serba sedikit diuraikan di atas. Dibutuhkan pengetahuan mengenai irama, rima, dan diksi, walaupun tidak terlalu mendalam. Karena dalam mengungkapkan kata-kata ke bentuk puisi diperlukan pemilihan kata-kata yang tepat, bukan hanya tepat maknanya melainkan juga harus tepat bunyi-bunyinya. Penyusunan kata-kata itu harus sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan estetis (indah). Selain itu, pendayagunaan majas dan personifikasi harus diperhatikan agar puisi yang dibuat semakin bagus.
Menulis puisi berbeda dengan menulis esai (artikel). Kalau dalam penulisan esai kita dituntut untuk menggunakan kata yang tegas dan tidak berbelit-belit, maka dalam penulisan puisi justru sebaliknya. Kita dituntut untuk pandai mengimprovisasikan sebuah keadaan menjadi rangkaian kata-kata yang enak dibaca dan penuh dengan makna tersembunyi.
Mari kita mulai dengan praktek : Ketika Anda duduk-duduk di taman, Anda melihat seekor kucing sedang makan tikus dengan sangat rakus, sehingga menimbulkan bunyi kriuk-kriuk  yang begitu menjijikkan. Maka kalau keadaan itu diterjemahkan ke dalam satu bentuk puisi akan menjadi seperti ini :

          Lihatlah...
          kucing jantan sedang asyik mencumbu kepala tikus ...

Mengapa kita harus memilih kata “lihatlah,” bukan “kulihat”?
Dalam konteks ini tujuan kita adalah mencoba mengajak pembaca untuk ikut merasakan apa yang sedang kita rasakan. Nah, kalau kita memilih kata kulihat,  maka berarti kalimat tersebut hanya ditujukan untuk diri kita sendiri, bukan untuk pembacanya.

Mengapa kita harus memilih frasa “kucing jantan”, bukan “kucing betina” atau “kucing” saja?
Tujuannya di sini adalah sebagai penegasan untuk memperkuat makna, sebab kata jantan  itu sendiri sudah memiliki makna kuat, garang, ganas dsb. Kalau kita hanya memakai kata kucing  saja, kalimat tersebut akan menjadi kurang tegas, terlebih kalau kita memilih kata kucing betina.  Itu justru akan membuat lemah makna yg terkandung.
Lalu mengapa kita harus memilih kata “mencumbu” bukan “memakan”?
Tujuannya adalah untuk memperluas makna. Kalau kita pilih kata memakan,  paling pembaca mikirnya begini: Halah, cuma ‘gitu doang, memasukkan makanan ke dalam mulut.  Akan sangat jauh berbeda dengan ketika kita memilih kata mencumbu.  Pembaca akan mendapatkan banyak imajinasi dari pemakaian kata mencumbu  di sini. Bisa diartikan memeluk, menciumi, menjilati, melumat, dsb.

Mengapa “kepala tikus”?
Frasa kepala tikus  di sini berfungsi untuk memfokuskan perhatian. Kalau kita memilih frasa perut tikus,  maka perhatian pembaca akan melebar ke mana-mana, karena di dalam perut yang begitu empuk terdapat isi yang tentu saja ikut termakan dan dipilah-pilah lagi oleh si kucing. Sangat berbeda ketika kita memilih frasa kepala tikus. Kepala tikus  mengandung makna bahwa tikus yang dimakan itu hanya satu. Selain itu, frasa tersebut akan membuat pembaca berimajinasi begini : betapa gemeretaknya ketika gigi-gigi kucing itu sedang beradu dengan tempurung kepala tikus yang begitu keras. Pastilah liur si kucing sampai berceceran dan tentu saja itu sangat sangat menjijikkan.


Mulailah menulis. Jangan terlampau terikat dengan teori. Atau kondisinya dibalik : menulis (praktek) lebih dahulu. Teori belakangan.